Harimau Sumatera, Pesan Kematian dari Sorot Mata Sang Datuk

Mata yang pernah menyorotkan keganasan, kebuasan, dan keliaran itu kini memancarkan kepasrahan, kesakitan, dan keibaan. Taring yang dulu tajam untuk membunuh, mengoyak, dan mencabik daging itu kini telah patah habis.

Tubuh yang pernah memancarkan keperkasaan sekaligus keluwesan itu kini kurus seperti tulang berbalut kulit loreng hitam-jingga. Auman yang dulu menggetarkan dan membuat merinding itu kini berganti menjadi rintih menahan sakit.

Seperti itulah perilaku seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) bernama Melani (17) dalam kandang besi di Rumah Sakit Hewan Taman Safari Indonesia, Cisarua, Kabupaten Bogor, Minggu (1/9/2013).

Melani sudah berada di TSI sejak 1 Juli 2013 untuk diselamatkan dari sakit kronis. Lambung, hati, pencernaan, dan jaringan syaraf Melani rusak diduga akibat selalu mengonsumsi daging berformalin selama di Kebun Binatang Surabaya.

Kisruh pengelolaan KBS sehingga satwa koleksi terlantar, termasuk Melani, memaksa Kementerian Kehutanan mengeluarkan instruksi pemindahan dan penyelamatan harimau sumatera tersebut ke TSI. Saat tiba, bobot Melani cuma 45 kilogram sehingga amat kurus dan lebih terlihat seperti kucing peliharaan daripada satwa berjuluk datuk atau raja rimba.

Di TSI, Melani dirawat secara intensif oleh enam dokter spesialis harimau. Binatang ini sempat diinfus karena susah makan. Diberi daging segar, Melani emoh mengunyah. Tim memberi Melani daging olahan berkualitas tinggi dan bervitamin yang impor dari Australia. Daging berupa gumpalan seperti bakso itu pun harus disuapkan sebab Melani benar-benar enggan makan. Jika diberi daging yang kurang halus, Melani malah akan diare dan muntah.

Seminggu lalu, bobot Melani sempat mencapai 51 kilogram. Namun, bobot turun lagi akibat Melani susah makan. Dalam sehari, Melani hanya mampu menghabiskan 1,5 kilogram daging. Padahal, harimau sumatera idealnya mengonsumsi 6-9 kilogram daging sehari. Pelbagai upaya telah ditempuh untuk mempertahankan hidup Melani. Saat dijenguk pada Sabtu (31/8/2013), Melani berbobot 48 kilogram.

"Saya sungguh heran, Melani seperti menahan sakit, kehilangan semangat hidup, dan menunggu kematian," kata Tony Sumampau, bos TSI, saat mendampingi peserta Orientasi Wartawan Konservasi (Owa-K).

Penangkaran

Masih ada beberapa harimau sumatera yang sedang dirawat di penangkaran TSI. Namun, berbeda dari Melani, macan-macan di penangkaran itu masih memancarkan semangat hidup bahkan sifat alaminya yang liar dan galak tetapi mengagumkan.

Bimo (5) misalnya, pejantan yang diselamatkan dari Riau karena terkena racun beberapa bulan lalu. Di penangkaran, Bimo terlihat segar dan kekar. Saat kamera mendekat, Bimo meloncat dari tempat istirahat, mengaum, dan mencoba menerkam. Kami pun terkejut dan mundur. Bimo sedang dijodohkan dengan Putri (5).

Di kandang lain, ada Salamah (6). Macan betina ini pernah kena jerat dan gantung di hutan Aceh. Saat diturunkan, Salamah sudah tergantung berhari-hari sehingga kaki yang terjerat membusuk. Oleh tim dokter Universitas Syiah Kuala, kaki kanan Salamah diamputasi. "Kami kaget saat menerima kedatangannya, kenapa diamputasi seluruh kaki yang kena jerat," kata drh Ardita di penangkaran.

Kondisi itu, lanjut Ardita, menyulitkan Salamah. Macan betina ini tidak dilirik oleh pejantan mana pun di penangkaran. Beberapa pejantan pernah disatukan dengan Salamah agar terjadi perkawinan alamiah. Namun, para pejantan emoh dengan betina yang cacat.

Sedang dipikirkan bahwa Salamah mengandung dengan teknik inseminasi atau suntik sperma. Masalahnya, teknik itu tingkat keberhasilannya cuma 2 persen. Padahal, pada satwa lain seperti badak afrika, tingkat keberhasilan teknik inseminasi dikabarkan mencapai 60 persen.

Terancam

Nasib harimau sumatera di alam liar pun tidak terlalu jauh berbeda dari macan-macan di penangkaran yang hidup dalam penderitaan. Di habitatnya, harimau sumatera terancam punah akibat aktivitas manusia.

Dalam rantai makanan, harimau sumatera bisa saja menjadikan manusia sebagai mangsa. Namun, dalam kehidupan nyata, justru mangsa (manusia) yang menjadi pemangsa. Kelebihan manusia mengatasi harimau sumatera sehingga satwa ini diburu sebab kulit, taring, organ tubuh dianggap memberi manfaat ekonomi. Hutan-hutan yang adalah habitat sang macan dirusak untuk kepentingan manusia (perkebunan, permukiman, pertambangan).

Menjadi jelas bahwa aktivitas manusia menurunkan populasi harimau sumatera. Pada 1978, dipercaya masih ada 1.000 harimau sumatera. Namun, menurut Global Tiger Initiative, populasi pada 2010 diyakini tidak lebih dari 325 harimau sumatera.

Ketua Forum Harimau Kita Dolly Priatna mengatakan, upaya menyelamatkan populasi harimau sumatera dengan menetapkan suatu kawasan konservasi tidak banyak menolong. Justru 70 persen habitat satwa ini berada di luar hutan lindung, cagar alam, atau taman nasional.

Oleh sebab itu, konflik antara manusia dan harimau sumatera terus terjadi. Dalam catatan, konflik mengakibatkan 12 orang meninggal dunia setiap tahun akibat serangan harimau sumatera. Jumlah yang sama berlaku untuk harimau sumatera yang dibunuh manusia. Padahal, pada prinsipnya, satwa tidak menyerang manusia tanpa sebab.

Dolly percaya, populasi yang ada saat ini tidak bisa ditambah secara alami jika tidak ada komitmen untuk menyelamatkan harimau sumatera. Memang, ada setidaknya 140 harimau sumatera yang menjadi koleksi 52 kebun binatang atau taman safari di Indonesia. Namun, satwa yang lahir atau berada di lembaga konservasi itu tidak bisa lagi dilepasliarkan. Kemampuan alamiah sebagai harimau sumatera sebagai pemburu dan karnivora diyakini telah pupus ketika sang satwa tidak hidup di alam liar.

Dolly mendorong siapapun untuk kembali ingat akan harimau sumatera. Dalam norma tradisional di Pulau Sumatera, macan disanjung dan dihormati dengan gelar datuk (terhormat). Jika satwa ini tetap menjadi datuk dalam segenap aspek kehidupan masyarakat sekitarnya, mungkin harimau sumatera tidak akan pernah punah.

Namun, bisa saja di antara kita ingin nasib harimau sumatera seperti harimau jawa dan harimau bali yang telah dinyatakan punah sehingga sosok satwa itu cuma bisa dinikmati dari dongeng dan lukisan.

Editor : Laksono Hari Wiwoho


http://sains.kompas.com/read/xml/2013/09/02/0857032/Harimau.Sumatera.Pesan.Kematian.dari.Sorot.Mata.Sang.Datuk
◄ Newer Post Older Post ►
 

© mehrir Powered by Blogger